Salam semangat Sahabat MataSinema!
Kali ini saya ingin berbagi tentang satu film yang bagi saya pribadi sangat menggugah dan penuh pelajaran hidup
Jujur saja, kesempatan untuk mereview film ini sebenarnya di luar dugaan saya !
Apalagi juga diundang nonton Premiere-nya di Planet Holywood pada Selasa, 20 Desember 2011 lalu, alhamdulillah yaa
Soo, mari kita simak yuk film nasional terbaru ini :) Hafalan Shalat Delisa, seperti beberapa film lain yang diadaptasi dari novel best seller, tentunya sudah punya fan base sebelum film ini diproduksi. Salah satu fans novelnya adalah sayaa
Berlatar belakang pantai Lhok Nga di tanah Aceh yang permai, terdapat sebuah keluarga yang sangat menginspirasi. Delisa (Chantiq Schagerl) adalah anak bungsu di keluarga itu yang agak nakal namun sangat peduli dengan keluarga dan teman-temannya (cozy). Dia mempunyai tiga orang kakak perempuan yaitu si sulung Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Aprialdi) dan Zahra (Riska Tania Aprialdi). Sang ibu, ummi Salamah (Nirina Zubir) mesti sendirian mengurus ketiga orang putrinya karena sang ayah, abi Usman (Reza Rahardian) sedang bertugas di kapal tanker perusahaan minyak internasional. Hari-hari Delisa penuh keceriaan di tengah kesederhanaan hidup masyarakat Lhok Nga.
Delisa mempunyai teman setia bernama Tiur dan ia selalu menyemangatinya ketika Tiur mengalami musibah atau saat dijahili Umam, temannya yang nakal. Delisa yang berumur 7 tahun kala itu adalah anak yang selalu mengharapkan hadiah atas segala tugas yang dilakukannya. Dan kali ini sebuah kalung berinisial “D” yang akan menjadi hadiah untuknya jika lulus ujian hafalan shalat. Sebuah cerita dramatis pun dimulai saat hari itu tiba, hari ketika tsunami menghantam dengan ganas pantai Lhok Nga, Aceh serta beberapa negara Asia Tenggara, yang juga hari ujian hafalan shalat delisa. Bagaimana kisah selanjutnya? Makanya nonton yaa..
Karakter yang menyatu
Bagaimana kualitas para aktor dan aktris film Hafalan Shalat Delisa? Mantaabb! (banana_cool) Semua karakter utama berhasil diperankan dengan alami oleh mereka, saya penasaran bagaimana cara memilih orang-orang yang tepat dari sekian banyak aktor & aktris yang ada…(thinking) Tentu saja yang paling menggemaskan adalah Delisa yang diperankan oleh Chantiq
Setahu saya ini adalah film bioskop pertama yang dimainkannya dan secara menakjubkan karakter Delisa yang periang dan peduli benar-benar pas dia perankan
neither more or less (nottalking). Yang juga pantas diberi penghargaan khusus tentu saja Reza Rahardian yang dengan alami memerankan abi Usman, terutama pasca tsunami terjadi ketika dia mencari keluarganya yang hilang (tears). Last but not least adalah ummi Salamah yang diperankan dengan memukau oleh Nirina Zubir, mungkin karena sudah berpengalaman sebagai seorang ibu ya
Ternyata lebih cantik mbak Nirina kalau pakai jilbab, semoga bisa diteruskan di kehidupan nyata ya mbak
Sinergi narasi dan sinematografi
Kelebihan utama yang membedakan Hafalan Shalat Delisa dengan film lain yang sejenis adalah kemampuan tim produksi untuk memadukan segala aspek pendukung film. Dimotori oleh sutradara muda, Sony Gaokasak yang sudah berpengalaman dalam film Tentang Cinta (2007), film Hafalan Shalat Delisa mampu dengan baik memadukan segala aspek dalam film ini terutama hikayat dan prosa Aceh tentang tsunami dengan latar belakang tempat yang cukup merepresentasikan Aceh saat itu. Mungkin banyak yang tidak mengira kalau setting film ini mengambil lokasi di Ujung Genteng, Jawa Barat. Termasuk saya!
hehe, namun justru dengan memakai lokasi tersebut yang jauh dari Aceh maka tim produksi dapat menyuguhkan gambaran Lhok Nga yang lebih mendekati novelnya
loh bagaimana bisa? Ijinkan saya mengungkapnya tentu saja dengan pendapat yang bisa benar bisa salah, namanya juga manusia hehe
Jika kita membaca novelnya, saya yakin pembaca bisa merasakan bagaimana keseharian Delisa di Lhok Nga, inilah kepiawaian seorang Tere Liye dalam membuat narasi yang sederhana namun menyentuh dalam novelnya. Apalagi saat tsunami menghancurleburkan Lhok Nga dan pantai-pantai lainnya, serasa ngeliat siaran langsung! (bigeyes) tapi itu menurut saya ;) nah untuk mereproduksi novel tersebut ke dalam film tentunya dibutuhkan keahlian sinematografi yang tidak sembarangan
Dan bagi saya kolaborasi Sony Gaokasak dengan Bambang Supriadi melalui tata kameranya dan Tya Subiakto dengan ilustrasi musiknya berhasil menyuguhkan kisah Delisa yang sederhana ini dengan sangat apik!
salah satu aspek yang menentukan adalah pemilihan lokasi, anda bisa bayangkan bagaimana cara memporak porandakan pantai dengan berbagai pohon, rumah dan kapal karam di atas pantai tersebut?
kondisi Ujung Genteng yang memang kering kerontang telah membantu terciptanya scene tersebut, sedangkan di Lhok Nga yang asli saat ini keadaannya sudah jauh berbeda karena sudah diperbaiki sejak peristiwa tersebut
satu penghargaan juga saya berikan untuk Geppetto Animation yang cukup ciamik memberikan efek animasi 3D terutama saat scene tsunami dan scene dalam mimpi Delisa
Sebuah kemajuan untuk film nasional kita! (applause)
Kekurangan?
Ah, sulit bagi saya memberikan kritik untuk film ini
But no film’s perfect, i know that (okok) secara umum narasi film ini sudah selaras dengan novelnya, jadi saya harap para penggemar novel HSD puas setelah menonton filmnya (jangan lupa kasi comment di bawah yaa
) Apa ya, mungkin karena improvisasi yang kurang dari alur ceritanya terutama di bagian ending (unsure) Tapi saya akui ada beberapa improvisasi dari alur cerita yang merupakan nilai tambah untuk film ini
Efek animasi film ini walaupun sudah cukup baik untuk sebuah film nasional, tapi masih bisa ditingkatkan. Ada beberapa adegan tsunami yang jika dibuat animasinya bisa menambah dramatis film ini
Kesimpulan
At last but not the least, menurut saya film yang baik adalah film yang bukan hanya menggugah saat tayang di bioskop. Dia juga harus mampu menularkan pesan-pesan kebaikan dalam kehidupan para penonton, dan Hafalan Shalat Delisa mampu melakukannya!
Saya yakin ini juga berkat keteguhan hati rakyat Aceh dalam menjalani kehidupan mereka sehingga sang penulis novel pun terinspirasi untuk menuangkannya dalam bentuk novel
Dua pelajaran penting dari film ini: ikhlas melakukan apapun untuk mendapatkan yang terbaik dari Tuhan dan cintailah orang tua kita karena Tuhan menitipkan kasih sayangNya melalui mereka :-) Akhirnya, saya berharap film ini juga mampu menginspirasi anda sekalian sahabat MataSinema
Selamat menonton!



Mantappp….review nya sgt lengkappp :)
Balas
Thank youuu Rickii
maaf ya teman-teman, lumayan telat posting untuk review kali ini
Balas
Suka dengan keceriaan dan kekuatan optimisme seorang Delisa. Suka dengan sikap yg tetap pd sosok anak-anak usianya : “Semuanya jahat! Semuanya pergi ninggalin Delisa.” Dialog saat temannya mendapat kabar bhw ibunya telah ditemukan. Sdg dia menunggu kabar ttg ibu nya. Sangat menyentuh hati orang-orang dewasa, mengingat dia seorang anak yg TEGAR.
Balas
Great review Mas Yugo, tapi saran Mas Boby kombinasi tulisan yang out of topics dipangkas aja…
Kalo menurut saya yang Alhamdulillah asli Aceh, film
‘Hafalan Shalat Delisa’ sangat disayangkan justru sama sekali tidak menunjukkan secara gamblang logat bahasa lokal (bahasa Aceh) dalam dialognya, tidak seperti film ‘Laskar Pelangi’ & ‘Sang Pemimpi’ dengan Bu Muslimah yang diperankan oleh Cut Mini sangat kental logat bahasa lokalnya.
Saya juga merasa kurang nyaman dengan visualisasi saat Delisa akan berpisah dengan Tiur dan kakak-kakaknya terus terakhir dengan Ummi Salamah, menurut saya gambarannya kurang pas aja.
Harus saya akui, seperti yang telah saya tulis dalam status FB dan BB saya ketika menonton film ‘Hafalan Shalat Delisa’ ini pertama kali saat Nonton Bareng YISC Al-Azhar, 1 Januari 2012 lalu… menonton film ini membuat saya kembali menangis dan terbayang saudara-saudari saya yang meninggal/hilang saat terjadinya tragedi tsunami tersebut, jadi saya justru tidak menyarankan film ini akan diputar di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Pendapat saya bukan tanpa alasan, ketika saya mengajak Kepala Cabang Pandu Logistics Banda Aceh untuk menonton film ‘Hafalan Shalat Delisa’ pada 8 Januari 2012 lalu, selesai menonton beliau menyatakan menjadi terbayang-bayang kembali saat beliau berjuang bertahan hidup saat tragedi tsunami terjadi, apalagi saat kejadian Kantor Pandu Logistics Banda Aceh termasuk yang hancur lebur
Anyway, salut buat film dan novel ‘Hafalan Shalat Delisa’, semoga menggugah hati penontonnya untuk semakin dekat kepada ALLAH SWT dan semakin menyadari betapa tak berdayanya manusia yang penuh kelemahan.
Terima kasih dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
TETAP SEMANGAT!!! :)
Wassalam,
Mas Boby
Balas
Top Bangeeeettt Duech Menguras Air Mata…
Terimakasih Bnyk Untk MataSinema Dan Kak Reza, Sukseees Selalu
Balas